Membangun infrastruktur yang tidak hanya kuat, tetapi juga tangguh
Infrastruktur jalan dan jembatan merupakan bagian penting dari konektivitas dan aktivitas ekonomi. Ketika terjadi gangguan pada infrastruktur transportasi, dampaknya tidak hanya dirasakan pada aspek fisik, tetapi juga dapat memengaruhi mobilitas, distribusi barang, aktivitas proyek, hingga keberlangsungan operasional di berbagai sektor.
Karena itu, pembangunan infrastruktur saat ini tidak cukup hanya mempertimbangkan aspek kekuatan struktur dan kapasitas. Ketahanan terhadap risiko bencana dan perubahan iklim juga menjadi bagian penting dalam perencanaan dan pengelolaan infrastruktur.
Hal tersebut menjadi salah satu perhatian dalam konferensi regional Teknik Jalan ke-16 (KRTJ) yang mengangkat tema:
Ketahanan infrastrukturJalan dan Jembatan Terhadap Bencana dan Perubahan iklim.
KRTJ-16 akan diselenggarakan pada 5-8 Oktober 2026 di Swiss-Bellhotel, Balikpapan, Kalimantan Timur, dan menjadi forum yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dalam bidang jalan, jembatan, konstruksi, teknologi, dan infrastruktur.

Mengapa ketahanan infrastruktur semakin penting?
Risiko terhadap infrastruktur dapat berasal dari berbagai faktor, termasuk curah hujan tinggi, longsor, mapun kondisi cuaca ekstrem.
Dalam dokumen Bina Marga mengenai ketahanan jalan terhadap perubahan iklim, disebutkan bahwa perubahan iklim menambah kompleksitas tantangan pembangunan jalan. Infrastruktur jalan dapat berada pada koridor dengan risiko bencana seperti banjir, longsor, dan gempa, sementara integrasi climate resilience ke dalam pengelolaan aset jalan dan pengambilan keputusan teknis masih menjadi tantangan.
Artinya, konsep resilience perlu dipertimbangkan tidak hanya pada tahap pembangunan, tetapi juga dalam bagaimana infrastruktur dipersiapkan untuk menghadapi kondisi yang tidak terduga.
Ketahanan infrastruktur pada akhirnya berkaitan dengan kemampuan untuk:
- mengantisipasi potensi gangguan
- mengurangi dampak ketika gangguan terjadi
- menjaga area dan fasilitas penting tetap terlindungi
- mempercepat pemulihan setelah gangguan
- serta mempertahankan keberlangsungan fungsi infrastruktur
Drainase dan infrastruktur proteksi memiliki peran yang berbeda
Dalam menghadapi risiko air dan genangan, sistem drainase tetap menjadi bagian fundamental dalam pengelolaan air pada infrastruktur jalan.
Bina Marga memiliki pedoman desain drainase jalan yang mengatur pengelolaan air sebagai bagian dari desain dan pengelolaan infrastruktur jalan.
Namun, dalam kondisi tertentu, perlindungan tambahan pada area kritis juga dapat menjadi bagian dari kesiapsiagaan.
Misal pada:
- akses masuk fasilitas
- area kerja proyek
- gudang penyimpanan material
- ruang utilitas
- area peralatan
- fasilitas pendukung proyek
- akses menuju fasilitas penting.
Dalam konteks terebut, pendekatannya bukan menggantikan sistem drainase maupun desain teknis jalan, melainkan memberikan lapisan perlindungan tambahan ketika terdapat risiko masuknya air ke area tertentu.
Pendekatan seperti ini menjadi relevan terutama pada area yang membutuhkan perlindungan sementara dan dapat berubah sesuai kondisi lapangan.
dari mitigasi menuju infrastruktur resilience
Konsep ketahanan infrastruktur pada dasarnya tidak hanya berbicara tentang bagaimana sebuah struktur bertahan terhadap suatu kejadian.
lebih luas dari itu, infrastruktur resilience juga berkaitan dengan kesiapan sistem dalam menghadapi gangguan dan mempertahankan fungsi pentingnya.
Karena itu, strategi ketahanan dapat melibatkan kombinasi antara:
Perencanaan -> Identitas Risiko -> Sistem Drainase & Infrastruktur Utama -> Perlindungan Area Kritis -> Emergency Preparedness -> Pemulihan Operasional.
Setiap lapisan memiliki fungsi yang berbeda. Dalam perspektif tersebut, teknologi dan produk pendukung dapat menjadi salah satu bagian dari strategi kesiapsiagaan, selama digunakan sesuai kebutuhan dan karakteristik risiko dilapangan.
FloodLock dan perlindungan area kritis
Sebagai bagian dari upaya memperkenalkan solusi perlindungan terhadap risiko air dan banjir, FloodLock hadir dengan konsep water activated protection yang dapat digunakan pada area yang membutuhkan perlindungan sementara dari masuknya air.
FloodLock menggunakan konsep dimana ketika terkena air, material didalam akan menyerap air dan mengembang sehingga FloodLock dapat digunakan sebagai penghalang sementara di area yang ingin dilindungi.
Pendekatan ini membuat FloodLock lebih relevan untuk ditempatkan sebagai solusi pendukung perlindungan area kritis, membantu pengendalian air banjir dan sistem drainase.
Beberapa area yang dapat menjadi perhatian antara lain:
- Project Site
Area proyek dapat memiliki berbagai fasilitas sementara yang membutuhkan perlindungan dari risiko masuknya air. - Acces Point
Akses masuk menuju bangunan, fasilitas, atau area kerja dapat menjadi salah satu titik yang perlu diperhatikan ketika terjadi genangan. - Warehouse & Material Storage
Material, perlatan, dan kelengkapan proyek dapat memiliki kebutuhan perlindungan yang berbeda dari struktur utama. - Critical Facilities
Area utilitas atau fasilitas pendukung yang memiliki fungsi penting terhadap operasional dapat membutuhkan langkah perlindungan tambahan.
FloodLock hadir di krtj-16
Sebagai bagian dari komitmen untuk memperkenalkan solusi perlindungan terhadap risiko air dan banjir kepada lebih banyak pelaku industri, FloodLock akan hadir dalam konferensi Regional Teknik Jalan Ke-16.
Kehadiran FloodLock di KRTJ-16 menjadi kesempatan untuk memperkenalkan perspektif mengenai water activated protection dan bagaimana perlindugan area kritis dapat menjadi bagian dari kesiapsiagaan dalam mendukung ketahanan infrastruktur.
KRTJ-16 sendiri mengangkat tema:
“Ketahanan Infrastruktur Jalan dan Jembatan Terhadap Bencana dan Perubahan Iklim”
Dengan subtema ASBUTON, konferensi ini juga menghasilkan berbagai agenda yang berkaitan dengan teknologi, inovasi, pembiayaan, kontruksi, dan pengembangan infrastruktur jalan.
Melalui kehadiran di forum seperti KRTJ, FloodLock tidak hanya memperkenalkan produk, tetapi juga membuka ruang diskusi dengan para profesional dan pelaku industri mengenai kesiapsiagaan menghadapi risiko air dan banjir pada area-area yang memiliki fungsi penting.
Ketahanan infrastruktur pada akhirnya bukan hanya mengenai bagaimana sebuah infrastruktur dibangun, Ketahanan juga mengenai bagaimana kita mempersiapkan, melindungi, dan menjaga keberlangsungan fungsi infrastruktur ketika menghadapi kondisi yang tidak terduga.
Melalui pendekatan tersebut, FloodLock hadir sebagai salah satu solusi pendukung untuk temporary water protection pada area yang membutuhkan perlindungan tambahan.
Sampai bertemu di KRTJ-16, Balikpapan.